Senin, 10 Maret 2014

Bintang Mahaputra Utama


BINTANG MAHAPUTRA UTAMA
Oleh Dr. H. Rosiady Sayuti


Mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh masyarakat NTB, termasuk saya kira pak Gubernur NTB sendiri, kalau pada suatu saat beliau akan mendapat anugrah Bintang Mahaputra Utama dari negara. Suatu penghargaan yang konon untuk masyarakat sipil sebagai penghargaan yang tertinggi. Hanya setingkat di bawah Bintang Republik Indonesia, yang biasanya diberikan kepada Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dan orang orang yang jasanya  sangat luar biasa kepada negara dan bangsa.

Didalam penjelasan resmi tentang jenis jenis penghargaan yang dikeluarkan oleh sekretariat negara, dikatakan bahwa Bintang Mahaputra Utama dianugerahkan kepada seseorang yang “berjasa luar biasa terhadap nusa dan bangsa di suatu bidang tertentu di luar bidang militer.  Pengertian berjasa luar biasa menurut penjelasan Pasal 1 U.U. No. 6 Drt. Tahun 1959 “Jasa-jasa luar biasa terhadap nusa dan bangsa ialah perbuatan-perbuatan yang bermutu tinggi yang sangat bermanfaat bagi keselamatan dan kesejahteraan negara.”

Ketika saya membuka lebih lanjut daftar penerima Bintang Mahaputra Utama sejak tahun 1957 hingga 2007 saya menemukan ada tiga tokoh  Nusa Tenggara Barat yang pernah menerima Bintang tersebut. Yang pertama adalah Bapak Mayjen H. Gatot Suherman, sesuai dengan SK Presiden Tanggal 6 Agustus 1986, yang kedua adalah Bapak Mayjend H. Warsito, SK Presiden Tanggal 11 Agustus 1987, dan ketiga adalah Almagfulah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, SK Presiden  tanggal 4 Nopember 2000.

Kita semua sangat mengenal ketiga sosok tersebut. Bapak H. Gatot Suherman adalah Gubernur NTB periode delapan puluhan yang terkenal dengan Bumi Gora-nya, karena telah berhasil membalik citra NTB dari langganan kelaparan alias kekuarangan beras, menjadi penghasil  dan penyumbang swasembada beras. Beliau disebut langsung oleh Presiden Suharto dalam pidatonya pada sidang FAO pada tahun 1984 sebagai gubernur yang berhasil melaksanakan pola pertanian gogorancah; sehingga produksi beras di Nusa Tenggara Barat meningkat signifikan. Bahkan disebutkan sebagai salah satu provinsi yang menyumbangkan produksi beras sehingga Indonesia mengalami swasembada beras sejak tahun 1984.

Mayor Jenderal Warsito, yang menjadi gubernur NTB setelah Bapak H. Gatot Suherman, adalah sosok yang dikenal keras dan tegas dalam memimpin NTB namun juga humanis. Beliau dinilai berhasil dalam melanjutkan berbagai program pembangunan yang telah dirintis oleh pendahulunya, utamanya dalam kaitannya dengan upaya melestarikan program swasebada beras; sehingga NTB tidak hanya ber swasembada, namun sedikit demi sedikit mampu memberikan kelebihan produksi yang dimiliki untuk didistribusikan ke daerah daerah lain di Indonesia yang membutuhkan. Dengan kata lain , beliau mampu menjadikan NTB sebagai lumbung pangan nasional, khususnya beras.

Tokoh ketiga yang diberikan anugerah Bintang Mahaputra Utama oleh negara adalah almagfurlah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Tokoh yag sangat gigih berjuang membangun masyarakat lewat jalur pendidikan. Sejak kepulangan beliau dari menuntut ilmu di Mekah,  tahun 1933, jauh sebelum Indonesai merdeka, beliau telah mendirikan lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren namun dengan sistem klas modern, yang beliau namakan Madrasah Nadlatul Wathan Diniyah Islamiyah, untuk santri laki laki dan kemudian Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah bagi kaum perempuan. Mungkin beliaulah tokoh pertama dari bumiputra yang melaksanakan sistem pendidikan seperti itu berbeda dengan para tuan guru seangkatan beliau di Lombok ini, yang memilih sistem pendidikan non klas; karena menganggap bahwa sistem klas dalam pendidikan itu adalah sistem penjajah.  Kalau dari perspektif gender, saya yakin beliaulah yang pertama di NTB bahkan mungkin di Indonesai Timur yang mendirikan lembaga pendidikan khusus untuk perempuan. 

Melalui murid murid beliau pada angkatan awal, beliau kemudian mendirikan pondok atau lembaga pendidikan di berbagai penjuru  Pulau Lombok, yang kemudian dibina secara langsung. Kurang lebih dua puluh tahun setelah mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, yaitu pada tahun 1953, beliau kemudian mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan, yang dalam bahasa beliau untuk menjaga lembaga lembaga pendidikan yang telah didirikan sebelumnya dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat selanjutnya.  Saya kira, Nahdlatul Watahan ini adalah organisasi modern pertama di Lombok; yang didirikan oleh putra sasak sendiri. Dikatakan modern karena sedari awal sudah membentuk struktur kepengurusan dari pusatnya di Pancor sampai ke tingkat yang paling bawah di desa atau bahkan di dusun yang disebut cabang, anak cabang, dan bahkan ranting.

Putra NTB ke empat yang mendapatkan anugerah Bintang Mahaputra Utama dari negara adalah Dr. TGH. M. Zainul Majdi, MA, gubernur NTB saat ini. Berbeda dengan dua gubernur NTB sebelumnya yang mendapatkan anugrerah tersebut di kala menjabat pada periode kedua beliau masing-masing, Tuan Guru Bajang mendapatkan anugerah tersebut pada saat memimpin sebagai gubernur pada periode pertama, pada tahun keempat masa kepemimpinan beliau.

Menurut Pak Drs. H. Rusdi, Kepala Dinas Koperasi dan UKM yang mendampingi pak Gub ketika menerima anugerah tersebut menceriterakan bahwa awalnya beliau diusulkan oleh Kementrian Koperasi dan UKM untuk mendapatkan anugerah Bintang Jasa Utama, karena jasa beliau yang dinilai luar biasa dalam membina dan membangun perkoperasian di Nusa Tenggara Barat. Keberanian beliau untuk mengkuantifikasi berbagai sasaran dan target pembangunan, termasuk visi membangun 2000 Koperasi Berkualitas dan Penciptaan Seratus Ribu Wirausaha Baru merupakan titik awal yang dipertimbangkan oleh kementrian sehingga mengusulkan beliau untuk mendapatkan Bintang Jasa Utama; setelah pada tahun sebelumnya diberikan penghargaan sebagai pembina koperasi terbaik nasional.

Setelah usulan ke Dewan Tanda Kehormatan RI di tingkat nasional, setelah mengevaluasi  berbagai prestasi dan penghargaan yang sebelumnya pernah di terima oleh Gubernur NTB, seperti di bidang pariwisata, ketenagakerjaan, penanggulangan kemiskinan, pembangunan industri kerajinan rakyat, dan lain-lain (lebih dari 30 macam penghargaan) nampaknya  Dewan Tanda Kehormatan RI memandang Gubernur NTB dapat ditingkatkan bintangnya, menjadi Bintang Mahaputra Utama. Sebelum bersidang, tentu ada Tim Verifikasi  mengadakan kunjungan lapangan ke NTB, berdialog dengan berbagai komponen masyarakat yang dianggap dapat menjadi sumber informasi yang sahih untuk memverifikasi berbagai informasi tertulis yang ada.  Konon tim tersebut datang ke NTB lebih dari satu kali. Termasuk menemui dan berdialog langsung dengan pak Gubernur.

Tanggapan TGB
Dalam sebuah pengajian di Pancor, TGB menyatakan rasa syukur atas anugerahdari negara yang demikian tinggi kepada beliau; apalagi penghargaan seperti itu sangat terbatas anggota masyarakat yang menerimanya.  “namun semua ini tidak terlepas dari kerja keras semua fihak para pelaku pembagunan di daerah NTB, termasuk para Bupat Walikota, para kepala SKPD, dan tentu masyarakat sendiri.  Dengan kerja keras dan kebersamaanlah hampir semua indikator yang telah dicanangkan dalam RPJMD kita dapat kita capai; minimal sudah dalam arah yang benar. On the right track,” ungkap beliau dengan rendah hati, jauh dari bahasa yang terkesan membusungkan dada.  Tidak banyak gubernur yang mendapatkan anugerah seperti itu dari negara.  Salah satunya adalah Bapak Gamawan Fauzi ketika menjabat sebagai Gubernur Sumatra Barat, pada tahun 2009, sebelum kemudian beliau diangkat menjadi Mendagri. Selamat pak Gub atas anugerah yang luar biasa ini; semoga ini dapat menginspirasi kita semua di NTB untuk menuju NTB yang lebih baik, lebih beriman dan berdaya saing di masa masa mendatang. Wallahu ‘alam bissawab. (Denpasar, 10 Sep 2012)

Menuju Birokrasi Klas Dunia


MENUJU BIROKRASI KLAS DUNIA
Oleh Dr. Rosiady Husanenie Sayuti

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Tata Praja
Setda Provinsi Nusa Tenggara Barat

Alhamdulillah, cukup banyak ilmu yang saya peroleh dalam mengikuti Diklatpim Tingkat II yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) kampus Jatinangor, Jawa Barat.   Diklat itu sendiri diselenggarakan selama kurang lebih 70 hari, sejak 3 September sampai dengan 8 Nopember 2013.

Salah satu topik yang menarik dalam Diklatpim ini adalah adanya visi dari LAN s untuk mewujudkan birokrasi Indonesia menjadi birokrasi kelas dunia.  Tidak kurang dari Kepala LAN sendiri membicarakan masalah itu.  Demikian pula para pembicara yang lain.  Ini artinya, “menjadi birokrasi kelas dunia” itu sudah tidak lagi sekedar menjadi  jargon, tapi sudah masuk dalam blue print atau grand design pembangunan aparatur pada Kementrian Negara Pembinaan Aparatur  dan Reformasi Birokrasi. Kelahiran UU Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sedang difinalisasikan di DPR, juga merupakan bagian dari grand design itu.  Konon, dalam ujian tulis calon PNS yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini, materinya sudah mencerminkan visi itu.  Pemerintah sudah mulai meletakkan dasar-dasar pada mindset para calon PNS, bagaimana mereka berkiprah ke depan; bagaimana mereka menata diri, menata perilaku dan cara berfikir, sehingga kualitasnya tidak kalah sama PNS dari negara lain.

Apa itu Kelas Dunia?

Isitilah kualitas kelas dunia sudah umum dipakai di dunia Perguruan Tinggi.  Ada isitilah (yang diapakai untuk promosi): World Class University atau Universitas Klas Dunia.  Tidak lain maksudnya adalah kualitas pengajar dan lulusan Perguruan Tinggi tersebut tidak jauh beda dengan kualitas Perguruan Tinggi yang ada di negara-negara maju.  Dari sisi SDM dan infrastruktur, ada semacam benchmark yang dipergunakan, misalnya: seberapa banyak penelitian dan publikasi ilmiah dengan kualitas internasional telah dihasilkan; berapa banyak professornya yang sudah ‘berkelas dunia.’ Seberapa banyak pendapat atau publikasi para professor tersebut telah dikutip oleh para peneliti atau pengajar lain dari kampus lain (yang dikenal dengan istilah citation index). Dan lain-lain.

Sementara itu, untuk membangun “birokrasi ber kelas dunia” tentu indikatornya berbeda. Menurut Sekertaris Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi Tasdik Kinanto, inti dari birokrasi berkelas dunia itu adalah birokrasi yang profesional, akuntabel dan melayani.   Menurut Togar Arifin Silaban, yang menulis buku tentang World Class Bureaucracy, “birokrasi kelas dunia adalah sistem yang mengelola administrasi pemerintahan dengan prinsip-prinsip good governance. Disana ada profesionalisme birokrat yang tinggi, kompetensi tinggi, transparansi dan akuntabilitas yang tinggi. Etos kerja para birokrat berada pada kematangan dan kedewasaan sistem birokrasi. Sistem bekerja efisien dan efektif.”  

Dengan kata lain, birokrasi klas dunia itu intinya pada dua sumbu: sumbu pertama adalah aparatur SDM itu sendiri; dan yang kedua adalah pada sistem, tata kelola administrasi atau governance.  

Antara SDM dan system, menurut teory System Thinking yang kami dalami  selama Diklatpim ini, saling mempengaruhi.  SDM yang baik akan melahirkan system yang baik.  System yang baik, akan mewujudkan birokrasi yang baik pula.  Dari mana mulainya?

Kalau itu pertanyaannya, saya akan menjawab tanpa ragu: SDMnya.  Inilah yang kita benahi terlebih dahulu.  System yang ada sekarang kita laksanakan sebagaimana mestinya; karena asumsinya, system yang ada sekarang sudah baik.  Ketika suatu hari kwalifikasi SDM yang kita bangun dan kembangkan telah meningkat, maka dengan sendirinya mereka akan dapat menakar, apakah system yang ada sekarang sudah cocok, atau perlu disempurnakan; dalam rangka memenuhi tuntutan layanan yang disediakan untuk publik.  Bukankah, seperti yang disampaikan Sektretaris Menpan di atas, bahwa ujung dari kualitas birokrasi itu sesungguhnya adalah kepuasan publik terhadap jasa layanan yang mereka sajikan.  Apa yang aparat birokrasi kerjakan sehari-hari di kantor tidak lain sesungguhnya adalah bagaimana meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap layanan birokrasi sehari-hari.  Karena esensi dari terbentuknya sebuah negara adalah bagaimana rakyat atau penduduk di negara itu dapat terlayani kebutuhannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kalau kondisi pada hari ini, kesan umum terhadap pelayanan birokrasi masih belum ideal.  Bahkan jauh dari ideal. Masih cukup banyak terdengar kasus-kasus yang terjadi yang melibatkan aparatur yang kemudian muncul isitilah arogansi aparatur, ego sektoral, tidak profesional, asal-asalan, dan lain-lain.  Kesemuanya itu mencerminkan kualitas aparatur kita saat ini.  Bahkan tidak sedikit dari kalangan aparatur yang justru ‘minta dilayani’ oleh masyarakat, bukan menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat.

Saya ingat ketika masih kuliah di Amerika Serikat.   Dalam sebuah perjalanan, saya tersesat, dan masuk ke suatu kantor untuk menanyakan arah yang harus saya lalui.   Begitu mereka tahu masalah saya, secara langsung salah seorang dari pegawai yang ada di kantor itu kemudian menemui saya dan bahkan ke luar dari gedung itu untuk menunjukkan ke arah mana saya harus mengendarai kendaraan saya.  Dia rupanya merasa tidak cukup hanya dengan menunjukkan peta yang saya bawa.  Dia harus yakin bahwa saya faham apa yang dia jelaskan. Seperti itulah, mungkin, pelayanan yang seharusnya diberikan oleh aparatur yang nota bene berlabel klas dunia. Profesional, artinya faham yang mereka harus kerjakan, faham apa yang mereka harus berikan, dan faham bahwa apa yang diberikan itu adalah sesuai dengan apa yang dikehendaki masyarakat.  Bahkan mereka juga harus faham, apakah masyarakat puas atau tidak dengan layanan yang mereka berikan.  “As simple as that,” kata orang Amerika tadi, setelah melihat dari raut wajah saya, kalau saya faham kemana saya harus menuju, agar tidak tersesat.  Wallahu ‘alam bissawab. (Jatinangor, 19/10/13)

Pasangan Sayang Keluarga


Catatan dari Calgary, Canada
MEMBANGUN PASANGAN SAYANG KELUARGA (PASAGA)

Oleh Dr. Rosiady Sayuti

Agak lama saya mengutak atik terjemahan ke bahasa Indonesia dari istilah Baby Friendly Couples.  Kalau secara ‘leterlek’ mungkin lebih tepat Pasangan Ramah Anak.  Tapi kalau mengatakan ‘ramah anak’, konotasinya tidak terlalu fokus ke keluarga.  Bisa saja ‘ramah anak’ menjadi sangat umum. Kata ‘ramah’ di situ bisa berarti ramah kepada anak siapapun, dan dimanapun.  Padahal dalam konteks program yang sedang kami desain proposalnya dalam rangka Hibah Kompetisi di Grand Challenge Canada senilai dua juta dollar ini, dimaksudkan untuk membangun sistem yang yang secara efektif meningkatkan kemampuan pasangan suami istri, ibu dan bapak, dalam memberikan perhatian, cinta kasih, layanan, sentuhan, kepada si buah hati masing-masing, sejak masih dalam kandungan ibunya, sampai kemudian dia lahir, menjadi bayi, anak balita, remaja, dan seterusnya. 

Melalui program ini nantinya akan didesain bagaimana materi dan model intervensi atau sentuhan yang dapat diberikan kepada setiap pasangan hidup rumah tangga yang berencana untuk memiliki anak.  Program seperti ini menjadi sangat penting dewasa ini mengingat beberapa hal: pertama, adanya kecenderungan global makin menipisnya pemahaman masyarakat akan nilai-nilai berkeluarga atau berumah tangga.  Akibat dari kurangnya pemahaman tersebut, tidak sedikit keluarga yang hancur, gara-gara hal yang sangat sepele.  Yang selalu menjadi korban kemudian, pastilah si anak.  Kedua, belum ada kebijakan atau program khusus yang didesain secara sistematis dalam rangka memberikan ruang bagi setiap pasangan yang ingin menikah atau bahkan telah menikah, yang dapat memberikan ilmu, pemahaman, bahkan ‘life skill’ kepada setiap pasangan sehingga mereka memahami secara benar apa yang seharusnya dilakukan dan difikirkan dalam mengarungi kehidupannya bersama pasangannya.   Tidak seperti ketika akan berangkat haji, dimana jauh-jauh hari dengan sangat rajin kita mengikuti manasik haji.   Ketiga, data yang dimiliki para ahli sangat menghawatirkan. Intinya adalah, tatanan berkeluarga di dunia makin lama makin kabur.  Ikatan emosional antar anggota keluarga juga makin lama makin longgar.  Sifat individualisme, seperti yang kita hawatirkan selama ini, makin lama menjadi budaya baru di masyarakat. 
Dengan ‘rusaknya’ tatanan dalam berkeluarga, maka tidaklah mungkin kita berharap generasi muda kita ke depan akan tumbuh menjadi makin baik.   Padahal, tingkat persaingan ke depan kian hari kian tinggi.  Untuk itu, kualitas sumberdaya manusia kita haruslah menjadi makin baik.

Grand Challenge Canada
Grand Chellenge Canada (GCC) adalah lembaga donor yang didanai sepenuhnya oleh Pemerintah Canada dalam rangka memberikan hibah kepada para peneliti dari dunia ketiga dalam bidang kesehatan. Salah satu programnya bernama Saving Brain Initiatives, atau Inisiatif menyelamatkan otak manusia.  Program ini dilatar belakangi oleh adanya kenyataan sekitar dua ratus juta anak-anak di seluruh dunia yang terancam perkembangan otaknya karena kekurangan gizi, kemiskinan, dan keterlantaran.  Tidak sedikit dari mereka ini yang tidak termasuk keluarga miskin, namun megalami nasib yang tidak baik bagi perkembangan otaknya, karena ketidak mampuan atau ketidak fahaman orang tuanya dalam memelihara dan membangun otak si anak dari masih dalam kandungan sampai pada usia emas (golden age), yaitu sampai usia dua tahun.  Termasuk juga kita di Indonesia.

Dari diskusi yang saya lakukan bersama Dr. Anuraj Shangkar, seorang professor dari Harvard University yang sangat concern dengan NTB,  lahirlah pra proposal yang berjudul Golden Generation Program: An Integrated Community Based Early Childhood Development Initiative in Indonesia.  Alhamdulillah, dari ratusan pra proposal yang masuk, kami salah satu dari empat peneliti yang diundang ke Calgary Canada.  Tujuannya adalah untuk memberikan pengkayaan terhadap berbagai usulan yang masuk dalam rangka membuat proposal lengkapnya; sekaligus sebagai media seleksi bagi para peneliti yang diundang.

Inisiatif atau inovasi yang kami rancang dalam proposal tersebut adalah memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada para pasangan suami istri atau calon suami istri sehingga mereka mememiliki pemahaman, ilmu, dan ketrampilan dalam ‘memelihara dan membangun otak’ anaknya kelak.   Artinya, para orang tua harus dapat ilmu tentang tumbuh kembang otak anak manusia, sehingga anak yang dilahirkannya menjadi anak yang cerdas dan sehat.

Terkait dengan gagasan itulah, tentu banyak faktor yang turut mempengaruhi.  Banyak variabel yang mesti diintervensi. Banyak target group yang harus dilayani. Semua itu memerlukan metode ilmiah yang tentu hasilnya akan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah pula.  Jika ini berhasil,  tidak kurang dari lima puluh ribu anak se NTB yang akan menjadi komunitas binaan selama dua tahun.  Ratusan kader akan disertifikasi untuk dapat terlibat dalam kegiatan ini.  Demikian juga ratusan lembaga PAUD dan Posyandu juga akan distandarisasi, dalam rangka memenuhi kebutuhan program ini.  Akan ada sertifikat khusus kepada pasangan yang telah memenuhi persyaratan untuk diberi julukan “Baby Friendly Couples” yang untuk bahasa Indonesianya saya terjemahkan menjadi “Pasangan Sayang Keluarga” (PASAGA) itu.   Mungkin ada isitilah lain yang lebih pas; kami masih sangat terbuka untuk menerima masukan.  Yang jelas, apa yang akan dilaksanakan melalui program ini, bagi kita di Nusa Tenggara Barat, merupakan kelanjutan dari program AKINO yang telah dilaksanakan lima tahun ini. Dan menjadi awal dari program kependudukan untuk menyongsong lahirnya Generasi Emas Nua Tenggara Barat 2025. Insya Allah. (Calgary, Canada 18/06/2013).


Sambutan Pada Musrenbangprov 2013


LAPORAN KEPALA BAPPEDA PADA MUSRENBANGPROV 2013, 27 MARET 2013


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil alamin
Asshalatuwasshala mualaa ashrafil anbiyaaiwal mursalin
Waala aalihi, sahbihi ajmain
Amma bakdu

Yang terhormat, Bapak Mentri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia
Yang terhormat, Bapak Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, waki Kepala Bappenas Repulik Indonesia
Yang terhormat, Bapak Mentri Dalam Negeri Republik Indonesia, yg diwaikil oleh Bapak Staf Ahli Mentri Bidang….
Yang kami hormati, Bapak Gubernur Nusa Tenggara Barat
Yang kami hormati, Bapak Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat
Yang kami hormati, Bapak/Ibu para anggota DPD dan DPR RI Daerah pemlihan NTB
Yang kami hormati, Bapak Ketua DPRD, Bapak-bapak Anggota Forum Koordiansi Pimpinan Daerah,
Yang kami hormati, bapak-bapak para Bupati/walikota se Nusa Tenggara Barat
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, singkatnya hadirin dan hadirat yang berbahagia

 Alhamdulillah wa syukurillah, pada hari ini kita kembali berkumpul di tempat ini, dalam rangka memulai pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat yang merupakan acara ritual ceremonial yang setiap tahun kita laksanakan, sebagai implementasi UU no 25 tahun 2004 tentang Sistem perencanaan Pembangunan Nasional. 

Musrenbangprov, adalah sebuah limestone yang harus dilaksanakan, dalam rangka proses penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun yang akan datang. Tidak lain maksudnya adalah sebagai ajang silaturahmi seluruh pemangku kepentingan pembangunan di daerah ini. 

Forum inilah tempat mendiskusikan berbagai saran pendapat dari berbagai unsur masyarakat, dunia usaha, organisasi atau lembaga non pemerintah, lembaga agama, lembaga budaya, dan seluruh komponen masyarakat lainnya,  terkait dengan rencana kerja pemerintah daerah tahun mendatang.

Tema Musrenbang Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun ini adalah: Perluasan Pembangunan Ekonomi Kreatif dan Industri Olahan Berbasis Infrastruktur Mantap berkelanjutan.

Tema ini merupakan abstraksi dari visi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nusa Tenggara Barat 2005-2025, dimana tahun 2014 adalah tahun pertama pelaksanaan fase ke tiga dari RPJP tersebut.  Tahun 2014 adalah pelaksanaan tahun pertama RPJMD NTB 2014-2018.

Menurut penjabaran dari RPJP NTB 2005-2025 tersebut, pada fase ketiga yang akan datang ini, konsentrasi pembangunan sudah mulai mengarah ke proses industrialisasi dan perluasan pemasaran hasil; tidak lagi terkonsentrasi pada aspek peningkatan produksi bahan baku.  Tema ini juga kami tetapkan dengan mempertimbanngkan bahwa dalam lima tahun terakhir ini, yakni dalam pembangunan NTB 2009-2013, banyak keberhasilan telah diraih, baik di bidang pembangunan sumberdaya manusia, pembangunan ekonomi dan infrastruktur, serta dalam mengelola lingkungan hidup.  Hampir seluruh indikator yang tertera dalam RPJMD NTB 2009-2013 telah dapat diraih.  Keberhasiln tersebut, menjadi modal dasar yang strtaegis, untuk mengayunkah langkah pembangunan ke fase berikutnya, yaitu mencapai NTB yang lebih maju dan lebih sejahtera.

Bapak Gubernur serta hadirin yang berbahagia;

Ijinkan saya melaporkan dalam kesempatan ini, bahwa yang kami undang untuk memberikan pemaparan pada musrenbang tahun ini, selain dari Kementrian Dalam Negeri dan kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional, juga Bapak Mentri Percepatan pembangunan daerah tertinggal,  kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian Keshatan, kementrian perhubungan, kementrian Pekerjaan Umum, dan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.  Pemaparan dari berbagai kementrian tersbut diharapkan akan dapat memperkaya bahasan dan dokumen perencanaan yang akan menjadi hasil dari Musrenbang kali ini.  Atas perkenan bapak/ibu sekalian untuk memenuhi undangan kami sebagai narasumber dalam musrenbangprov ntb 2013 ini, kami ucapkan terima kasih.

Selaku panitia penyelenggara, kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin hadirat sekalian yang telah memenuhi undangan kami.  Tak lupa kami juga memohon maaf yang sebesar-besarnya, manakala dalam penyelenggaraan musrenbang ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati hadirin sekalian.  Termasuk di dalamnya, perubahan jadwal pembukaan musrenbang kali ini. 

Kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat, Bapak Dr. Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainul Majdi kami mohon dapat memberikan sambutan dan sekaligus membuka Musrenbang secara resmi.  Selanjutnya, kami mohon perkenan Bapak Mentri PDT, Mentri Dalam Negeri, dan Bapak Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, untuk memberikan pengarahan.

Selanjutnya akan ada presentasi dari Bapak-Bapak Pejabat Eselon satu dari berbagai kementrian, segera setelah usai upacara pembukaan ini.  Sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para narasumber dan juga kepada para peserta musrenbang 2013 ini.  Terkahir, ijinkan saya mengutip orang bijak yang menyatakan bahwa: Perencanaan yang baik adalah setengah dari keberhasilan; namun keberhasilan yang setengah-setengah, konon sama dengan kegagalan.  Kehadiran kita kali ini, sudah pasti bukan untuk merancang kegagalan, namun untuk menggapai keberhasilan.  Dan keberhasilan itu, pasti akan kita gapai, manakala ada ikhtiar yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan.

Wallhul muwafiq wal hadi ilaasyabilirrosyad

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kilas Balik Masa Lalu


Merajut Rencana, Meraih Pangripta
Catatan Kecil Kepala Bappeda NTB, 2008-2013

Hidup adalah Perjalanan: Sekilas Masa Lalu Saya

Oleh Dr. Rosiady Sayuti

Menulis di media, maaf,  merupakan salah satu hobi saya sejak duduk di bangku SMP. Beberapa kali tulisan tulisan saya, khususnya waktu itu berbentuk puisi, terpampang di majalah anak-anak “Si Kuncung.” Lantas tulisan tersebut saya pampangkan di majalah dinding sekolah. Sehingga lebih banyak lagi teman yang dapat membacanya.   Demikian juga ketika duduk di bangku SMA. Saya aktif dan menjadi pengasuh majalah dinding sekolah.

Tatkala di bangku kuliah, tulisan saya seringkalimuncul di koran mahasiswa nasional, yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.  Maklum waktu itu sedang gencar gencarnya NKK BKK, sehingga dana cukup banyak tersedia untuk ‘menormalisasi kampus’ dimana termasuk didalamnya terbitan-terbitan majalah atau koran. Juga yang dihajatkan khusus untuk mahasiswa.

Lewat tulisan tulisan saya di koran itulah, saya menjadi dikenal di kampus. Memiliki lebih banyak teman. Termasuk teman-teman di kampus sendiri, Fakultas Pertanian Unram. Ada beberapa senior dan dosen yang kemudian memperhatikan dan membina saya. Pada ujungnya, saya kemudian menjadi aktivis kampus. Menjadi ketua Senat Mahasiswa Fakultas, memimpin dan mendirikan majalah kampus Sativa, menjadi ketua dan pendiri Racana Pramuka Universitas, menjadi ketua dan pendiri Koran Kampus Mahasiswa Media, menjadi aktivis HMI, aktivis Ikatan Senat Mahasiswa Sejenis di Indonesia Timur, dan lain-lain. Itulah salah sebabnya, mengapa saya tidak bisa memenuhi harapan orang tua untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu. Beberapa teman saya mampu empat tahun, kalau saya, pas enam tahun. Masuk 1980, keluar 1986.

Tapi berkat itu pula, sebelum saya yudicium, saya ditawari untuk menjadi dosen oleh Dekan Fakultas Pertanian pada waktu itu, yaitu Bp Ir. Norberth Ama Ngongu. Saya ingat betul, salah satu kalimat beliau yang memotivasi saya. “sangatlah rugi daerah ini, kalau orang seperti saudara tidak mau menjadi dosen.” Pada akhirnya saya setuju, tentu setelah mempertimbangkan segala sesuatunya. Termasuk didalamnya, adalah pertimbangan bahwa kalau menjadi dosen, besar peluang untuk kuliah lagi, di luar negeri.   Sebuah cita-cita saya semenjak duduk di bangku SMP. Betapa indahnya kalau saya bisa kuliah di luar negeri. Dimanapun.

Ketika pertama kali keluar daerah, waktu itu mengikuti Jambore Nasional Pramuka di Sibolangit Sumatra Utara, tahun 1977, saya memang kemudian membayangkan kalau suatu ketika saya bisa keliling Indonesia. Setelah itu, berkelana ke luar negeri.  Sebuah keinginan dari seorang Pramuka Penggalang, yang berkesempatan mengarungi samudra nan luas, berlayar menggunakan kapal besar dari Surabaya ke Medan, untuk mengikuti jambore tersebut. Beberapa hari di tengah laut, memberi kesempatan kepada saya untuk berhayal, bermimpi bahwa suatu ketika saya akan bisa juga ke daerah lain, atau bahkan ke negara lain.

Dari kenangan dalam benak itulah, mungkin, yang kemudian memberikan inspirasi pada saya, bahwa kalau menjadi dosen, harus bisa kuliah ke luar negeri. Titik. Maka, setelah melewati proses seleksi dan sebagainya, maka sejak Maret 1987, resmilah saya memiliki NIP, menjadi PNS, menjadi dosen di Fakultas Pertanian Unram. Terus terang, menjadi dosen, bukan cita cita saya sewaktu kecil.

Setamat dari bangku SMA, orang tua saya sebenarnya ingin saya masuk di APDN. “biar kamu bisa menjadi camat, lantas menjadi Bupati, suatu hari nanti.” Kata beliau.  Saya sendiri bercita cita menjadi insinyur teknik, lantas menjadi profesional, atau kemudian menjadi pengusaha.  Ini terinspirasi dari seorang pengusaha, atau tepatnya pemborong, yang waktu itu cukup terkenal di Mataram. Padahal dia hanya tamat sekolah teknik menengah. ST atau STM. “apalagi kalau kita sarjana,” fikir saya waktu itu.  Beberapa tahun, bapak saya pernah tinggal di rumah orang itu, yang masih punya hubungan keluarga. Beberapa kali juga saya sempat berkunjung ke sana, dari desa. Maklum waktu itu, kami sekeluarga masih tinggal di desa, sementara Bapak saya di kota. Setelah saya menamatkan SD, baru kemudian kami boyongan pindah ke kota Mataram. Tepatnya pada tanggal 1 Januari 1974. Pada awalnya kami menyewa rumah di Gomong Lama. Saya masuk SMPN 2, adik adik saya masuk di SDN 7 (waktu itu) yang lokasinya sekarang berdiri AMM.

Dan waktupun berlalu. Kadang terasa demikian cepat. Kadang juga lambat. Malah menjenuhkan. Tapi itulah namanya perjalanan hidup. Dalam sebuah status di facebook saya pernah menulis…..”life is a journey.”   Sewaktu aktif sebagai mentor di HMI, di era delapan puluhan, saya selalu memulai ceramah saya dengan mengatakan, “hidup adalah perjuangan.” Dan mungkin itulah yang senantiasa memotivasi diri saya, memberi semangat hidup bagi saya, untuk menjalani kehidupan ini.

Guru saya adalah air dan matahari. Saya percaya sama teori yang mengatakan ikutlah seperti air mengalir. Dimana ada peluang, ke sana air mengalir. Tidak perlu terlalu ngotot untuk hal-hal yang memang terlalu sulit, atau malah tidak mungkin untuk dilampaui.  Sementara yang mungkin, dan mudah juga cukup banyak. Mengapa kita tidak memaksimalkan yang seperti itu. Yang mungkin dan mudah.

Demikian pula dengan matahari. Seorang ulama besar dari Lombok Timur, yang juga pendiri organisasi Nahdlatul Wathan, almagfurlah Maulana Syeikh, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, sering kali mengatakan “guru saya adalah matahari.”  Ketika masih nyantri di Madrasah Ibtidakyah NW Kotaraja, tentu filosofi matahari seperti yang Maulana Syeikh katakan itu belum dapat saya fahami.  Baru setelah dewasa, banyak belajar kesana kemari, bahkan sampai luar negeri, saya mulai memahami, apa yang beliau maksudkan dengan “guru saya adalah matahari.”

Bahwa matahari adalah sumber kehidupan di dunia ini. Tanpa matahari, tentu kita tidak pernah akan dapat menikmati kehidupan ini. Matahari juga memberikan pelajaran dengan sifat-sifatnya yang sangat pasti. Terbit di pagi hari, tenggelam di sore hari. Menjadi penanda kehidupan, sekaligus menjadi pengatur kehidupan itu sendiri. Subhanallah. Dari matahari, kita bisa belajar untuk ihlas, yakin, dan istiqomah, seperti apa yang menjadi wasiat almagfurlah Maulana Syeikh. Itulah maknanya, filosofinya, yang dapat menjadi “guru” kita. Guru dalam kehidupan ini.

Memang benar, “hidup adalah perjuangan.” Artinya kita jangan cepat menyerah pada berbagai tantangan kehidupan. Yang dalam makna teori air, “senantiasa memanfaatkan peluang, betapapun kecilnya, tapi tidak terlalu ngotot, untuk sesuatu yang memang tidak mungkin kita lakukan. Karena memang kita harus tetap berjalan, meniti kehidupan kita masing-masing, dari waktu ke waktu. Dan benar juga, “hidup adalah perjalanan.” Wallahu ‘alam bissawab. (Jakarta, 100314)

LEARNING BY DOING


2. Learning By Doing: Memahami Tupoksi


Saya dilantik menjadi Kepala Bappeda NTB tanggal 6 Oktober 2008, bersama dengan pelantikan pejabat eselon dua yang lain. Pelantikan diadakan di Ruang Rapat Utama kantor Gubernur. Saya mengetahui akan dilantik menjadi Kepala Bappeda, ketika mendapatkan undangan untuk menghadap gubernur dan wakil gubernur, beberapa hari sebelum pelantikan. Ketika itu, para calon kepala SKPD yang akan dilantik dipanggil satu per satu untuk kemudian diberikan pengarahan, apa tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai kepala SKPD. Kepada saya, pak Gubernur menyampaikan:

“tugas Bappeda yang utama adalah dalam hal menyusun perencanaan pembangunan; baik lima tahunan maupun tahunan. Harus fokus di situ. Tidak boleh Bappeda melaksanakan program yang menjadi tugas skpd lain.  Cukup perencanaannya saja. Garis-garis besarnya. Nanti ada SKPD lain yang akan melaksanakan konstruksinya.  Kita memiliki visi NTB Bersaing. Nah tugas Bappedalah merumuskan perencanaan pembangunan setiap tahun, agar visi itu dapat terwujud. Minimal mendekati arah yang akan dituju. Jangan melenceng kemana-mana. Kita harus fokus.  Sebab anggaran kita terbatas.  Maka dengan keterbatasan itu, kita harus dapat mewujudkan sesuatu yang dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.  Kita harus mampu menurunkan angka kemiskinan. Sebab tidak ada artinya keberhasilan suatu pembangunan, jika angka kemiskinan kita tidak turun, apalagi bertambah…” kemudian beliau juga menyatakan…….”sebagai akademisi, saya berharap pak Rosiady dapat meningkatkan hubungan antara pemda dengan kampus. Antara praktisi dengan akademisi.  Karena bagaimanapun kita membutuhkan proses perencanaan yang bernuansa akademik. Setiapa kebijakan kita yang strategis harus didasari atas naskah akademik yang dapat dipertanggung jawabkan. Kita tidak sekedar berencana, tidak sekedar meneruskan apa yang sudah ada sebelumnya. Tapi semua harus ada kajian akademiknya. Dan untuk itu, kampus harus dilibatkan dengan baik….”

Itulah arahan awal pak Gubernur yang menjadi modal awal saya dalam menjalankan amanah sebagai Kepala Bappeda.

Menjadi kepala sebuah instansi memang tidak mudah. Tidak juga ringan.  Apalagi buat saya yang akademisi, yang sehari-harinya bergaul dengan mahasiswa. Yang tugas sehari hari adalah mengajar, memberikan penugasan, mengoreksi, dan seterusnya. 

Menjadi kepala Bappeda tentu sangat beda.  Saya tahu, banyak kalangan yang meragukan, apakah saya akan mampu mengemban amanah yang berat itu.  Belakangan saya menyadari bahwa jabatan kepala Bappeda biasanya diamanahkan kepada birokrat senior; yang sudah berpengalaman memimpin SKPD lain. Karena sejatinya, kepala Bappeda adalah koordinator perencanaan seluruh SKPD.  Sehingga kepala Bappeda haruslah orang yang sudah berpengalaman di satu atau dua SKPD lain. Bahkan lebih dari dua.  Baik sebagai kepala dinas atau kepala badan. Dengan demikian dia sudah memahami bagaimana proses perencanaan di instansinya.

Demikian pula pejabat-pejabat eselon empat ataupun tiga di bappeda; idealnya mereka yang sudah berpengalaman menjabat sebagai eselon empat atau tiga di skpd lain.   Karena tugas mereka secara teknis adalah mengkoordinasikan perencanaan skpd-skpd; sehingga, seperti halnya kepala Bappeda, mereka juga harus memiliki pengalaman menjadi pejabat di skpd lain.  Dengan kata lain, idealnya, penempatan pejabat di Bappeda sifatnya horizontal dari SKPD lain.  Kurang tepat, misalnya eselon empat di skpd lain dipromosikan menjadi eselon tiga di Bappeda.  Apalagi kemudian staf dari skpd lain, tiba-tiba menjadi pejabat eselon empat di Bappeda.

Kalau kita menoleh ke balakang, sebelum reformasi, ketika di Bappeda dipimpin oleh Ketua, bukan Kepala, eselonisasi di Bappeda memang lebih tinggi dibandingkan dengan SKPD lain.  Ini yang lebih tepat sesungguhnya; karena, sekali lagi, tugas seorang pejabat di Bappeda adalah koordinator di bidang perencanaan.   Bagaimana mungkin seorang koordinator memiliki eselon yang sama dengan mereka yang dikoordinir. Ini salah satu kritikan terhadap PP No 41.
Itulah sebabnya, dalam beberapa kali pertemuan Asosiasi Kepala Bappeda se Indonesia, masalah eselonering di Bappeda menjadi bahan perbincangan dan bahkan secara resmi menjadi usulan asosiasi ke Kemenpan.  Intinya adalah agar eselonering di Bappeda ‘dikembalikan’ ke era sebelumnya; agar eselon kepala Bappeda lebih tinggi dari kepala SKPD lain yang dikoordinir.  Karena menurut logika birokrasi, itu yang lebih tepat.

Learning by doing

Kembali ke laptop. Bahwa tugas sebagai kepala Bappeda itu tidak mudah. Sehingga wajar saja kalau di awal-awal kepemimpinan saya di Bappeda, banyak yang meragukan saya. Bahkan ada juga teman wartawan yang ‘mengkonfirmasi’ masalah keraguan tersebut kepada saya. Ya, saya jawab itu hak oranglah untuk menilai.  Tugas saya adalah bekerja dan bekerja, sehingga mereka dapat mengetahui kalau suatu ketika nanti proses perencanaan di daerah ini dapat terlaksana dengan baik.  Bahwa proses perencanaan di Bappeda dapat berjalan dengan baik; koordinasi antar bidang yang ada di Bappeda dapat terlaksana dengan baik.  Bahkan koordinasi antara bappeda dengan seluruh SKPD yang dikoordinir dalam hal perencanaannya dapat berjalan dengan baik.  Bahwa semua itu memang dapat berjalan dengan baik: di bawah kordinator seorang kepala Bappeda yang berasal bukan dari birokrat murni; melainkan seorang akademisi.

Karena tidaklah cukup kalau saya mengatakan di koran kalau saya sesungguhnya punya pengalaman memimpin proses perencanaan dan pengembangan di kampus, dimana saya pernah menjadi pejaba sebelumnya.  Sebagai Pembantu Rektor IV, tugas utama saya adalah dalam hal kerjasama dan perencanaan pengembangan kampus.  Bahwa di era saya menjadi PR IV, perencanaan pengembangan kampus Unram diselesaikan, untuk duapuluh tahun ke depan.  Tidak cukup juga kalau saya mengatakan bahwa saya juga terlibat dalam proses penyusunan RPJPD NTB 2005-2025. Dan seterusnya. Saya menghadapi semua itu dengan sabar saja.  Dengan penuh permakluman. Tapi tentu juga dengan penuh kesadaran, bahwa saya harus banyak belajar dan belajar. Belajar berbagai hal yang sangat teknis, terkait dengan perencanaan pembangunan.

Dari proses kesadaran itu, saya mengintensifkan rapat rapat koordinasi, baik internal Bappeda (terutama) maupun mengundang SKPD-SKPD.  Untuk membahas berbagai persoalan pembangunan di Nusa Tenggara Barat.  Hal itu dimulai, ketika saya harus tampil menyampaikan laporan dalam Musrenbang RPJMD 2009-2013.  Sebagai penampilan perdana saya sebagai birokrat. Pada tanggal …….. November 2008. Sebagai sebuah penampilan yang mungkin cukup mempengaruhi citra saya ke depan.

Ketika menjadi pemimpin dalam berbagai rapat itulah saya banyak balajar tentang Tupoksi saya sebagai Kepala Bappeda.  Saya ingat, suatu ketika saya harus memimpin rapat Tim Anggaran Pemeritnah Daerah (TAPD) dimana kepala Bappeda sebagai wakil ketua.. Kepala Biro Keuangan sebagai sekretaris. Kepala Dinas Pendapatan sebagai anggota. Sementara ketuanya adalah Sekretaris Daerah.  Tapi sehari-hari, rapat rapat dipimpin oleh kepala Bappeda. Dan rapat yang saya ingin ceritakan itu adalah rapat pertama di ruang rapat kepala Bappeda.

Rapat dihadiri tim TAPD lengkap. Dari Biro Keuangan, Dispenda, dan Bappeda.  Menyadari kalau waktu itu saya masih belum cukup bekal dalam memimpin rapat, saya hanya menyampaikan sepatah dua patah kata, untuk kemudian menyerahkan pimpinan rapat kepada Kepala Biro Keuangan. Namun sebelum menyerahkan palu pimpinan, saya menceriterakan kepada peserta rapat, kisah seorang tua yang didaulat oleh anak-anak muda di desanya untuk menjadi ketua Karang Taruna. Ini semata-mata karena hormat mereka kepada orang tua yang bersangkutan. Suatu ketika, si orang tua tadi memimpin rapat. Setelah rapat dibuka, si orang tua yang menjadi ketua, bertanya kepada peserta rapat: “anak-anak sekalian, apakah anak-anak tahu apa yang akan kita rapat kan kali ini?” mendengar pertanyaan tersebut, serentak para peserta rapat menjawab: “tidak tahu.” Lalu di orang tua melanjutkan: “karena semua tidak ada yang tahu, maka rapat saya tutup.” Lantas, si orang tua itu meninggalkan rapat. Maka gaduhlah suasana rapat itu. Tapi kemudian mereka sampai pada kesimpulan, rapat akan diulang, beberapa hari kemudian, dan menyepakati jawaban, sekiranya beliau bertanya lagi.

Dan benarlah, ketika rapat diulang, pada waktu memulai rapat, si orang tua bertanya lagi: ”apakah anak-anak tahu apa yang akan dirapatkan hari ini?” dan sesuai dengan kesepakatan, mereka serentak menjawab: “kami sudah tahu, pak ketua.” Lantas si orang tua melanjutkan, “ kalau demikian, karena  semua sudah tahu, maka menurut saya rapat tidak perlu dlanjutkan. Dan dengan demikian rapat saya tutup.” Tok. Maka gaduhlah kembali suasana di rapat itu.

Meka, mendengar cerita saya itu, teman-teman TAPD tertawa, dan disela-sela suasana itu saya katakan: “saya tentu tidak mau seperti orang tua dalam cerita saya tadi. Karena itu, maka saya persilahkan kepala biro keuangan untuk memimpin rapat.” Di situlah saya banyak belajar, berbagai hal. Sehingga pada rapat rapat berikutnya, saya sudah tidak perlu lagi “menyerahkan” pimpinan rapat kepada sekretaris TAPD ataupun yang lainnya.

Demikian pula dilingkungan internal Bappeda.  Saya meminta semua kepala bidang untuk mempresentasikan program atau kegiatan yang mereka rencanakan untuk setahun ke depan.  Dengan demikian, pelan-pelan, namun pasti, saya menjadi makin memahami Tupoksi Bappeda, dan tugas utama saya sebagai kepala Bappeda. Dari yang sifatnya umum, sampai pada yang sifatnya khusus. Yang besar maupun yang kecil. Termasuk ketika, dan ini yang paling sering, menjadi mediator antara Kepal Biro Keuangan yang tugasnya ‘membelanjakan’ pendapatan, dengan Kepala Dispenda, yang tugasnya ‘mengumpulkan’ pendapatan. Dan harus dapat mengambil keputusan, sebelum kemudian dipresentasikan di depan pimpinan maupun di depan para anggota dewan yang terhormat. Dengan kata lain, semua itu berjalan melalui proses yang mungkin itulah yang dimaksudkan dengan metode atau proses Learning by doing. Wallahu a'lam bissawab. (Jkt, 90314)

Memaski Bappeda dengan Senyum



1. Masuk BAPPEDA Dengan “Ice Breaking”

Hari itu, tanggal 8 Oktober 2008.  Adalah hari yang direncanakan untuk acara serah terima jabatan kepala Bappeda; dari Bapak Dr. H. Lalu Fathurrahman, MSc ke saya.  Sekaligus juga acara halal bihalal keluarga besar Bappeda. Maklum hari itu masih dalam suasana Idul Fitri.

Singkat cerita, acaranya dimulai. Tempatnya di lapangan tengah kantor Bappeda, yang juga berfungsi sebagai lapangan bulutangkis. Keluarga besar Bappeda sudah hadir semua. Saya lihat penceramah yang diundang juga sudah hadir, yaitu Bapak H Ahmad Fathoni. Acara pertama, pembacaan ayat-ayat suci alqur’an. Setelah itu laporan ketua panitia, kalau tidak salah ingat. Pak h. supran, sekretaris Bappeda kala itu. Lalu, sambutan Kepala Bappeda lama, Bapak Dr. H. Lalu Fathurrahman, M.Sc. yang saya rasakan cukup tegang. Juga cukup mengharukan. Suasana sepi sekali.

Beliau banyak menceriterakan hal ihwal tentang program pembangunan yang telah berhasil dilaksanakan, khususnya selama kepemimpinan Bapak Drs. H. Lalu Serinata sebagai Gubernur NTB periode 2003-2008. Dimana tentu Bappeda sebagai think tank nya. Diantaranya adalah pembangunan Bandara Internasional dan Bendungan Pandandure. Beliau juga menyebutkan beberapa staf Bappeda yang telah promosi dalam masa kepemimpinan beliau. Karena memang salah satu tugas seorang pemimpin adalah menciptakan pemimpin-pemimpin baru.

Suasana memang agak emosional, agak menegangkan, sampai pada akhirnya beliau mengakhiri sambutannya dengan tidak lupa meminta maaf sekiranya dalam masa kepemimpinan beliau ada hal hal yang kurang berkenan di hati para karyawan Bappeda.  Normatiflah. Namun yang saya fikirkan kala itu, apa yang harus saya sampaikan dan bagaimana cara menyampaikan agar suasana yang demikian tegang itu dapat mencair. Saya terus berfikir sambil mendengarkan sambutan beliau.

Dan alhamdulillah, saya mendapat inspirasi, mendapat ide, entah dari mana, apa yang harus saya sampaikan sebagai Ice Breaker, sebagai pemecah suasana yang demikian menegangkan itu. Dalam hati saya harus bisa membuat suasana ini mencair.  Dan ini sekaligus akan menjadi penanda bagi saya pribadi, apakah saya akan dapat diterima dengan baik, oleh para karyawan di Bappeda. Maklum saya ini bukan orang Pemda. Saya adalah dosen yang diperbantukan untuk menjadi Kepala Bappeda. Saya dalah “orang luar” yang nota bene belum banyak berkecimpung dalam dunia pemerintahan.  Kalaupun saya sering keluar masuk kantor Bappeda, itu karena di sana banyak kawan-kawan yang mengundang saya, dalam berbagai kegiatan.  Saya sering dilibatkan dalam berbagai tim atau kelompok kerja, yang membutuhkan buah fikiran atau pandangan saya.

Ketika Bapak Drs. H.L. Serinata menjadi gubernur, saya terlibat aktif dalam menyusun RPJMDnya, RPJMD NTB 2003-2008.  Demikian pula ketika penyusunan RPJPD 2005-2025; saya juga ikut aktif sebagai salah seorang tim penyusun.  Bahkan sebelumnya, ketika Bapak Drs.H. Harun Alrasyid menjadi gubernur juga saya sudah sering keluar masuk Bappeda. Sejak kepala Bappedanya alm Bp. Drs. H. Arfah Muzahar, kemudian Pak Ir. H. Nanang Samodra, Pak Drs. H. Abdul Malik, sampai juga ketika Bapak Drs. H.L. Fathurrahman memimpin Bappeda. Dengan kata lain, saya memang sudah sangat ‘familiar’ dengan teman-teman di Bappeda.

Namun kedatangan saya kali ini tentu sangat berbeda. Kalau sebelumnya, saya ke Bappeda sebagai tamu. Kali ini saya datang untuk menjadi tuan rumah. Untuk menjadi orang yang akan ‘mengepalai’ atau menakhodai kantor ini.  Tentu sangat berbeda. Pandangan mata para karyawan Bappeda, bahkan juga teman-teman yang sudah saya kenal baik, ketika kali ini saya masuk ke kantor Bappeda, tentu sangat berbeda.

Seperti sudah menjadi hukum alam, dimana saja bisa itu terjadi, akan pasti ada orang yang senang, dan pada saat itu, pasti juga akan ada orang yang sebaliknya.  Kita tidak usah berteori soal itu. Tidak perlu pula dipersoalkan. Yang jelas, dimana kita melangkah, kemana kita pergi, dan dalam suasana apapun kita berada, hukum alam itu pasti akan terjadi.   Tinggal kita mampu mengelola saja; mengukur, kearah mana bandul itu bergeser.  Apakah yang senang akan lebih banyak dari yang tidak senang, ataukan sebaliknya. Semua itu tergantung sungguh pada diri kita masing-masing.  Pada perkataan kita, pada pemikiran kita, pada perilaku kita. Dan sebagainya.

Seperti yang saya ungkapkan tadi, meski selama ini saya sudah sering masuk keluar kantor Bappeda, namun kali ini suasananya sangat berbeda.  Saya merasakan dalam hati, ketika saya mulai melangkah untuk memberikan sambutan perkenalan.  Sambutan yang menurut saya, akan sangat menentukan, pandangan para karyawan Bappeda terhadap saya.

Dan alhamdulillah, saya mendapatkan ide untukmemecahkan kesunyian kala itu, atau yang dikenal dengan istilah ice breaking. Saya mengatakan di awal sambutan saya: “bapak-bapak dan ibu sekalian yang saya hormati, hari ini saya melakukan kesalahan yang kesekian kali. Suatu kesalahan yang mungkin dipengaruhi oleh nlai-nilai budaya. …..” sampai di sini, suasana saya perhatikan menjadi makin sunyi, makin tegang. Para hadirin rupanya ingin tahu, apa yang saya maksudkan dengan ‘kesalahan’ itu. Saya perhatikan, semua memperhatikan dan pandangan mata tertuju ke arah saya. Sebelum kemudian saya melanjutkan,…”yaitu, saya lupa, benar-benar lupa, kalau hari ini adalah hari ulang tahun istri saya.” Dan gerrrr, saya dengar orang-orang tertawa, paling tidak kemudian tersenyum. Saya perhatikan, ada ibu-ibu yang langsung berdiri, memberikan ucapan selamat ulang tahun ke istri saya, yang memang saya ajak dan ikut dalam acara tersebut.

Dan plong, alhamdulillah, saya merasa, beban berat yang sedari awal saya rasakan, kini menjadi ringan. Saya seolah-olah bisa masuk, ke dalam deraian tawa orang-orang yang nota bene sejak hari itu akan saya pimpin, di kantor yang bernama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Kantor Bappeda, yang menjadi salah satu kantor sangat strategis dalam jajaran Pemerintah Prvinsi. Kantor atau instansi yang bertanggung jawab menggodok perencanaan pembangunan di daerah ini. Kalau dalam bahasa orang –orang politik, ‘hitam putihnya daerah ini ya tergantung bagaimana Bappeda mengaturnya.’  Artinya adalah, instansi Bappeda itu sangat strategis. Oleh karena itu, bekerja di Bappeda memiliki gengsi yang agak beda dengan di instansi lain.

Itulah sebabnya, sebelum Peraturan Pemerintah No 41 berlaku, eselon di Bappeda lebih tinggi dibandingkan dengan SKPD lain. Dan itulah yang seharusnya, karena salah satu tugas utama Bappeda adalah mengkoordinir SKPD lain dalam hal perencanaan dan pelaksanaan pembangunan (monitoring dan evaluasi). Seperti halnya inspektorat. Eselonnya harusnya lebih tinggi, karena tugasnya memeriksa skpd lain.

Tugas berat sudah lewat

Memasuki materi sambutan, saya tidak lupa memberikan sanjungan kepada pejabat yang saya gantikan. Saya katakan:

“………kita patut menghaturkan terima kasih kepada Bapak Drs. H. Lalu Fathurrahman, yang secara pribadi saya kenal baik.  Beliau pernah menadi anak buah bapak saya. Saya kenal beliau adalah orang yang sangat gigih dalam memperjuang kepentingan pembangunan daerah.  Tidak jarang beliau konon sampai menggebrak meja di pusat, baik di Bappenas ataupun di kementrian, demi memperjuangkan kepentingan daerah. Dan alhamdulillah kita ketahui bersama, semua perjuangan beliau tidak sia-sia. Yang paling nyata adalah perjuangan beliau untuk menghadirkan atau memulai pembangunan Bandara Internasional. Saya mengetahui bagaimana seluk beluk dan suka duka akhirnya bandara internasional di Penujak Lobok Tengah itu dimulai.  Bagaimana tarik menarik antara berbagai kepentingan saling bergelindan, yang membuat fihak Angkasa Pura atau bahkan Peerintah Pusat sepertinya enggan untuk memulai pembangunan bandara, yang sesungguhnya seharusnya sudah mulai di awal tahun dua ribuan.  Begitu juga perjuangan beliau untuk mendesak dimulainya pembangunan dam Pandanduri di Lombok Timur, yang perencanaannya sudah lama selesai. Demikian juga program program pembangunan lainnya, sesuai dengan perencanan yang tertuang dalam RPJMD ataupun RPJPD. Sehingga tugas saya ke depan sudah tidak terlalu berat lagi. Saya mungkin tidak perlu menggebrak meja lagi. Atau marah-marah lagi. Kalau boleh saya katakan, saya tinggal senyum-senyum. Saya tinggal meneruskan apa yang beliau telah rintis, mengawal penyelesaian pembangunan bandara, memastikan segera ground breaking dam Pandanduri, dan seterusnya.”

Sampai di sini, saya lihat suasana semakin cair, dan pak Fathurrahman kelihatan tersenyum.  Demikian juga hadirin yang lain. Rasa PD saya kemudian tumbuh, untuk memulai tugas berat di Bappeda, sebagai perencana sekaligus sebagai pengawal pembagunan di Nusa Tenggara Barat, yang kemduain dalam RPJMD ditetapkan mottonya sebagai NTB Bersaing, yaitu NTB yang beriman dan berdaya saing. Sebuah akronim yang tercipta, ketika saya dan teman-teman tim sukses mendiskusikan apa visi misi calon gubernur dan wakil gubernur, kala itu, jauh sebelum Pemilukada 2008 berlangsung, jauh sebelum kemudian saya diamanahkan menjadi Kepala Bappeda, sesuatu yang tidak pernah saya dengar dari Bapak Tuan Guru Bajang, sampai sebelas hari menjelang pelantikan beliau untuk menjadi Gubernur NTB Periode 2008-2013. Wallahu ‘alam bissawab.